RAGAM ILMIAH
Fahrul Kurniawan/Pend. Vokasional Teknik Elektronika/1513617032
Ragam ilmiah ialah ragam
bahasa keilmuan, yaitu corak dan ciri bahasa yang digunakan dalam penulisan
karya ilmiah. Ragam bahasa ilmiah harus dapat
menjadi wahana pemikiran ilmiah
yang tertuang dalam teks karya ilmiah. Ragam ilmiah menjadi wadah dari karya
ilmiah yang mencerminkan sikap ilmiah. Ragam ilmiah juga memperlihatkan cara
penulis memerhatikan kaidah-kaidah penulisan yang benar untuk menulis karya
ilmiah. Sebagai bahasa yang digunakan untuk memaparkan fakta, konsep, prinsip,
teori atau gabungan dari keempatnya, bahasa Indonesia diharapkan dapat menjadi
media yang efektif untuk komunikasi ilmiah, baik secara tertulis maupun lisan
(1). Beberapa ragam dari ragam bahasa, diantaranya :
A. Ragam Lisan dan Tulis
Bahasa Indonesia
ragam lisan sangat berbeda dengan bahasa Indonesia ragam tulis. Tidak semua
ragam lisan dapat dituliskan; tidak semua ragam tulis bisa dilisankan. Kaidah
yang berlaku bagi ragam lisan belum tentu berlaku bagi ragam tulis.
Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang
dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam ruang kuliah, hanya akan
berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Apa yang diperbincangkan dalam suatu
ruang diskusi susastra belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada di
luar ruang itu. Sebaliknya ragam tulis tidak terikat pada kondisi, situasi,
ruang dan waktu. Suatu tulisan dalam sebuah buku yang ditulis oleh penulis di
Indonesia dapat dipahami oleh orang yang berada di Amerika atau Inggris.
B. Ragam Baku dan Tidak Baku
Ragam baku adalah
ragam yang diakui oleh sebagian besar penggunaannya sebagai bahasa resmi,
sedangkan ragam tidak baku ragam yang hanya diakui di beberapa kalangan dan
menyimpang dari norma ragam baku. Ragam baku memiliki sifat sebagai berikut :
1. Mantap
Mantap
artinya sesuai dengan kaidah bahasa. Kalau kata rasa dibubuhi awalan pe-,
akan berbentuk kata perasa. Kata raba dibubuhi pe-, akan terbentuk kata peraba.
2. Dinamis
Dinamis artinya
tidak statis, tidak kaku. Bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati.
Kata langganan mempunyai makna ganda,
yaitu orang yang berlangganan dan toko tempat langganan. Dalam hal ini, tokonya disebut langganan dan orang yang
berlangganan itu disebut pelanggan.
3. Cendekia
Ragam baku
bersifat cendekia karena ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi. Ragam
baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara
atau penulis.
Contoh kalimat
yang tidak cendekia adalah sebagai berikut:
Rumah sang jutawan yang aneh akan dijual.
Makna rumah sang jutawan yang aneh mengandung
konsep ganda, yaitu rumahnya yang aneh
atau sang jutawan aneh. Dengan
demikian, kalimat itu tidak memberikan informasi yang jelas. Agar menjadi
cendekia kalimat tersebut harus diperbaiki sebagai berikut.
- Rumah aneh
milik sang jutawan akan dijual.
- Rumah sang
jutawan aneh akan dijual.
4. Seragam
Ragam baku
bersifat seragam. Pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa adalah proses
penyeragamaan bahasa. Pelayan kapal terbang dianjurkan untuk memakai istilah
pramugara dan pramugari. Andaikata ada orang mengusulkan bahwa pelayan kapal
terbang disebut pembantu udara dan penyerapan itu seragam, kata itu menjadi
ragam baku.
C. Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Ragam baku
tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau
buku-buku lainnya. Sedangkan
ukuran dan nilai ragam baku lisan ini tergantung pada besar atau
kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dapat dikatakan
berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol
pengaruh logat atau dialek daerahnya.
D. Ragam Sosial dan Ragam Fungsional
Baik ragam
lisan maupun ragam tulis bahasa Indonesia ditandai pula oleh adanya ragam
sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas
kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat.
Ragam
fungsional yang kadang-kadang disebut juga ragam profesional yaitu ragam bahasa
yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan
tertentu lainnya. Dalam kenyataannya, ragam fungsional digunakan sebagai bahasa
negara dan bahasa teknis keprofesian, seperti bahasa dalam lingkungan
keilmuan/teknologi (seperti istilah-istilah dalam ilmu komputer), kedokteran
(seperti istilah-istilah dalam ilmu kedokteran), dan keagamaan.
Sumber
2. Bahasa
Indonesia untuk Perguruan Tinggi (Membangun Karakter Mahasiswa melalui Bahasa)
diakses di :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar